Sabtu, 02 Mei 2020

Upaya Peningkatan Kualitas Kurikulum 2013 dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 untuk mencapai SDGs 2030

(Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2017 sebagai partisipasi pada Lomba Karya tulis di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang)*

PENDAHULUAN

Dunia tengah menghadapi transisi menuju Revolusi Industri Keempat. Hal ini ditandai dengan tergabungnya dunia fisik, digital, dan biologis (Schwab, 2016). Terintegrasinya dunia fisik dan digital meningkatkan automasi dan digitalisasi dalam banyak aspek kehidupan manusia, salah satunya pekerjaan. Automasi dan digitalisasi pekerjaan akan menggantikan buruh dan pekerja kasar dengan mesin dan robot. Revolusi Industri Keempat akan mengubah pola pasar tenaga kerja (World Economic Forum, 2016). Revolusi Industri Keempat akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru dengan kualitas yang lebih baik dan membutuhkan kualifikasi yang lebih baik (World Economic Forum, 2016). Maka dari itu, agar dapat bertahan di tengah Revolusi Industri Keempat, setiap negara harus berinvestasi pada pendidikan terutama bagi generasi muda sebagai pengisi pasar tenaga kerja (World Economic Forum, 2016). Hal ini sesuai dengan pandangan Kemenristekdikti (2018) yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing sebuah negara, ada tiga faktor yang harus dibenahi yaitu pendidikan dan pelatihan, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta inovasi dan kesiapan bisnis (business sophistication). Kualitas yang dibutuhkan untuk dapat bertahan di tengah Revolusi Industri Keempat antara lain kewirausahaan, kreativitas dan inovasi, serta adaptabilitas terhadap perubahan yang berfokus pada pembelajaran berkelanjutan (lifelong learning).(Lampiran 10).
Kewirausahaan merupakan komponen penting yang harus dimiliki dalam menghadapi Revolusi Industri Keempat, terutama karena di masa depan, entrepreneurial workforce akan sangat dibutuhkan (Brookings, 2017). Di sisi lain, pendidikan yang mendukung lahirnya inovasi merupakan aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam mempersiapkan diri untuk Revolusi Industri Keempat (Bank Dunia, 2017). Terkait adaptabilitas terhadap perubahan, Morgan (2016) mengatakan bahwa kemampuan-kemampuan yang dipelajari melalui pendidikan formal sekarang telah menjadi irelevan. Pekerja harus dapat melakukan reskill terhadap diri mereka sendiri (Morgan, 2016). 
Bambang P. S. Brodjonegoro (2018)  menegaskan bahwa mutu pendidikan di Indonesia harus ditingkatkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan terkait keterampilan dalam menghadapi Revolusi Industri Keempat. Maka dari itu, pembenahan pada bidang pendidikan merupakan jalan keluar yang tepat.Kurikulum menjadi komponen terpenting bagi sebuah lembaga dalam penyelenggaraaan sistem pendidikan nasional yang terpadu dan sistematis. Kurikulum menjadi aspek penting karena kurikulum mengatur materi apasaja yang harus diajarkan dan bagaimana metode untuk mengajarkan hal tersebut kepada generasi muda.
Perbaikan terhadap struktur kurikulum 2013 sesungguhnya sudah ada dan akan  terus diupayakan kedepannya oleh Pemerintah sebaga decision maker. Dalam Kurikulum 2013 yang diluncurkan oleh Kemendikbud tersebut, banyak terobosan yang ditawarkan dalam bentuk penyesuaian dengan  mengkaji  kelompok mata pelajaran yang diajarkan pada siswa. Perbaikan ulang dalam Kurikulum 2013 dipandang penting karena kurikulum ini adalah salah satu manifestasi dari bentuk usaha yang dilakukan  pemerintah untuk menyempurnakan kurikulum-kurikulum yang diterapkan sebelumnya, selain itu kurikulum tersebut memang ditujukan untuk mengikuti perkembangan zaman dan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan terampil (Kompas, 2014). Hal ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri Keempat dengan fakta bahwa sumber daya manusia Indonesia masih belum terlengkapi dengan keterampilan yang cukup (Okezone,2015).
Secara umum penulis berpendapat dibutuhkan jalan terbaik untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia yang mampu menyediakan tenaga kerja muda produktif yang dapat menyokong kebutuhan Revolusi Industri Keempat khususnya dengan perbaikan implementasi kurikulum 2013 bagi lembaga pendidikan formal. Berdasarkan paparan tersebut, maka timbul pertanyaan Bagaimana solusi dan langkah strategis yang dicapai untuk memperbaiki penerapan kurikulum 2013 dalam menghadapi revolusi industri keempat ? Kemudian Siapa pihak-pihak terkait yang dapat mengimplementasi gagasan dalam memperbaiki penerapan kurikulum 2013 ? Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi fokus tujuan penulisan dalam esai ini.

  PEMBAHASAN

Hubungan keterkaitan Revolusi Industri keempat, SDGs, dan Kurikulum Pendidikan
Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang mendeklarasikan pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) pada 25 September 2015 di New York, Amerika Serikat. SDGs berisi tujuan pembangunan berkelanjutan yang memiliki batas waktu tertentu dan target terukur yang harus dicapai hingga 2030. Implementasi SDGs menjadi komitmen negara terhadap rakyat Indonesia dan komitmen Indonesia kepada masyarakat global.
Menghadapi misi global ini, Indonesia perlu mempersiapkan diri agar mampu bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia harus menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni. Salah satu kelompok sosial yang urgen dalam merancang agenda pembangunan adalah generasi muda.Hal ini sejalan dengan agenda SDGs 2030 bahwa “masa depan umat manusia dan planet kita terletak di tangan kita, dan juga berada di tangan generasi muda sekarang yang akan meneruskan tongkat estafet generasi mendatang”.Selain itu, lebih dari sepertiga sasaran SDGs terkait dengan kaum muda secara langsung atau tidak langsung, dengan fokus pada pemberdayaan, partisipasi, atau kesejahteraan.
Pembentukan generasi muda yang handal dan berdaya saing global menjadi suatu tujuan.. Dan salah satu institusi pembangun generasi muda adalah pendidikan. Pendidikan menjadi satu instrumen penting dalam membentuk generasi muda berkualitas dan berdaya saing global. Pendidikan juga menjadi sektor utama yang paling berpotensi untuk menjadi jembatan tercapainya tujuan-tujuan lain dalam cakupan Sustainable Development Goals (SDGs) sehingga dikatakan sebagai pencipta efek domino pendidikan berkualitas (Poin 4) diberbagai sektor pembangunan (Lampiran 2). Nilai penting terlaksananya proses pendidikan dapat diukur ketercapaiannya ketika siswa telah menyelesaikan pendidikan dan  mulai mengabdikan potensi diri dilingkungan masyarakat. Untuk menciptakan proses pendidikan yang tercapai dengan sukses maka diperlukan penerapan kurikulum pendidikan yang efektif.

Kajian akan pentingnya meningkatkan standar kualitas kurikulum pendidikan merupakan hal penting karena kemampuan berfikir jangka panjang yang sangatlah dibutuhkan sebagai feed back dimasa mendatang. Karena peran manusia dimasa mendatang dituntut sangat cakap terutama dalam penguasaaan IPTEK mutakhir didalam benteng revolusi industri keempat. Secara umum revolusi industri keempat menuntut semua orang untuk lebih kreatif, inovatif, adaptif, dan solutif untuk dapat mempertahankan, menjamin, dan melangsungkan aktivitas kehidupan. Oleh karena itu, optimalisasi dan peningkatan peran kurikulum pendidikan menjadi suatu opsi fundamental dalam membentuk generasi muda Indonesia yang siap dan mampu menghadapi era revolusi industri keempat sehingga memiliki profesionalitas, kompetensi, kualitas dan daya saing global.
Permasalahan terkait implementasi kurikulum 2013
Dalam kurun waktu 5 tahun penerapan kebijakan kurikulum 2013, terdapat beberapa permasalahan dari berbagai aspek sudut pandang. Beberapa permasalahan tersebut diantaranya :
1. Topik mengajar dengan cakupan lebih luas  tidak sebanding dengan durasi waktu yang pendek.
2. Metode cara mengajar yang belum efektif
3. Pendekatan pembelajaran yang hanya berorientasi pada aspek pengetahuan.
4. Dokumen administrasi yang terlalu banyak
5. Ketidakselarasan kompetensi inti dan kompetensi dasar
6. Peran guru yang hanya sebatas mengajar
7. Penilaian sikap yang kurang objektif
8. Kurangnya literasi digital dalam pembelajaran
Gagasan Solutif Implementasi Kurikulum 2013
Berdasarkan permasalahan implementasi kurikulum 2013 yang terjadi, maka penulis mengusulkan beberapa  sintesis solusi pemecahan masalah, diantaranya :
1. Memperbaiki struktur kurikulum dengan menambah durasi mengajar terhadap beberapa mata pelajaran (Lampiran 3).
Penambahan durasi mengajar dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas penyampaian materi dari suatu mata pelajaran yang mempunyai cakupan luas pada topik pembahasan, sehingga diharapkan seluruh kompetensi inti yang dimiliki oleh mata pelajaran tersebut dapat dipahami & diterapkan oleh seluruh siswa. Perbaikan struktur kurikulum dengan menambah durasi mengajar harus mempertimbangkan kondisi SDM guru disekolah serta beban materi/standar isi seluruh mata pelajaran yang ada.

2. Pengembangan model  pembelajaran aktif & komprehensif dengan pengembangan kreatifitas berpikir tanpa batas (Lampiran 4, 5, dan 6)
Dalam mewujudkan penerapan kurikulum 2013 yang mampu mempersiapkan siswa dalam menghadapi revolusi industri keempat, peranan guru tidak hanya sebatas mengajar. Aktivitas guru yang hanya  memberikan proses pengajaran seputar pengetahuan dinilai tidak cukup karena kurang memperhatikan aspek sikap dan keterampilan yang sangatlah dibutuhkan sebagai kecakapan hidup dalam menghadapi revolusi industri keempat. Karena  keberhasilan siswa selama menempuh pendidikan formal salah satunya diukur dengan penguatan dan keselarasan aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi untuk menghasilkan insan emas yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Oleh karena itu, penulis mengusulkan model pembelajaran aktif & komprehensif dengan pengembangan kreatifitas berpikir tanpa batas sebagai solusi atas masalah metode belajar yang kurang efektif.

3. Penerapan metode pembelajaran yang berorientasi pada keseimbangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. (Lampiran 8)
Selain menerapkan pembelajaran dengan metode hafalan, diperlukan adanya pendekatan lain seperti pengamatan di lapangan, membuat pertanyaan, pengumpulan data, penalaran, penyajian data melalui berbagai sumber referensi belajar. Uraian pendekatan pembelajaran dengan metode lain berfungsi untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke aspek keterampilan, dan bermuara pada pembentukan sikap. Aspek sikap yang mengarah pada pembentukan kecerdasan afektif diberikan dengan persentase sebesar 20 %, lalu aspek pengetahuan dalam rangka pembentukan kecerdasan kognitif diberikan dengan persentase 40 %, kemudian untuk aspek keterampilan dalam rangka pembentukan kecerdasan psikomotorik diberikan persentase sebesar 40 %.

4. Mengklasifikasi & Menyederhanakan dokumen administrasi sesuai tujuan yang relevan.
Solusi terhadap banyaknya dokumen administrasi adalah melakukan penyederhanaan dokumen sesuai tujuan yang relevan sehingga dapat mengurangi dokumen dan menciptakan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Perlu diakui bahwa Kemampuan setiap guru dalam meyelesaikan administrasi pastinya berbeda satu sama lain, terdapat guru yang dapat menyelesaikan urusan administrasinya secara cepat dan tepat, dan terdapat pula yang sebaliknya. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan pembentukan forum diskusi interaktif untuk saling bertukar informasi agar tidak menimbulkan kendala dalam menyelesaikan urusan administrasi sesuai dengan panduan yang diperoleh Guru pada saat mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis yang diselenggarakan pemerintah.

5. Menyelaraskan maksud kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai tujuan pembelajaran
Untuk mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) yang ditetapkan maka dibutuhkan penguasaan kompetensi inti. Kompetensi inti bukanlah untuk diajarkan melainkan untuk dibentuk melalui proses pembelajaran dengan mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk terhadap kompetensi inti yang telah dirumuskan, sehingga lebih jelasnya semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari pada suatu kelas harus berkontribusi pada pembentukan kompetensi inti.  Dalam mendukung kompetensi inti, maka diperlukan peleburan capaian pembelajaran menjadi beberapa kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat bagian, diantaranya sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Uraian kompetensi dasar sedetail ini berguna untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran tidak berhenti sampai aspek pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke aspek keterampilan dan pada akhirnya bermuara pada pembentukan sikap. Keempat kelompok itu menjadi acuan dari kompetensi dasar dan harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran secara intensif dan integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung pada saat siswa belajar tentang pengetahuan dan keterampilan.


6. Penerapan peran pendukung bagi Guru selain mengajar (Lampiran 9)
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai Peran guru masa kini tidak hanya sebatas mengajar, melainkan guru dituntut untuk bisa menyiapkan peserta didik yang mempunyai softskill 4C dan 5M di abad ke-21. Komponen 4C antara lain  berpikir kritis dan analitis (Critical & Analitic thinking), kreatif dan inovatif (Creativity & innovation), komunikatif (Communication), dan kolaboratif (Collaboration). Komponen 5M antara lain Memahami (Understanding), Mengingat (Remember), Menganalisis (Analyze), Mencipta (Create), dan Menerapkan (Apply). Selain mengajar, tugas dan peran guru lainnya yaitu, Pertama,sebagai penjaga gawang seorang guru mampu mendidik siswa untuk menyaring pengaruh negatif dari lingkungan.Kedua, sebagai fasilitator, guru mampu membantu anak didik dalam proses pembelajaran sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran. Ketiga,sebagai katalisator guru harus mampu mengidentifikasi, menggali, mengoptimalkan potensi anak didik. Keempat, sebagai penghubung, guru harus mampu menghubungkan anak didik dengan sumber-sumber belajar yang beragam, baik didalam maupun diluar sekolah.
7. Menciptakan objektivitas dalam penilaian hasil belajar
Evaluasi terhadap hasil belajar yang ditempuh oleh siswa harus dilakukan secara objektif berdasarkan fakta sebenarnya. Guru sebagai pihak evaluator tidak hanya mengandalkan sumber data yang berasal dari diri sendiri, melainkan harus melibatkan peran guru lain & teman-teman siswa satu kelas sehingga objektivitas penilaian yang diharapkan dapat tercapai melalui penyebaran kuisioner & wawancara.
8. Meningkatkan peran literasi digital dalam mendukung proses pembelajaran.
Data dari Indonesia Digital Lanscape (2018) menunjukkan 50 % penduduk Indonesia dari total populasi adalah pengguna Internet aktif (Lampiran 12). Hal tersebut menunjukkan peran penting Literasi digital yang menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia. Proses pembelajaran seharusnya tidak  hanya mengandalkan bahan ajar  yang berasal dari buku modul, melainkan dibutuhkan cakupan  lebih luas dengan pemanfaatan search engine, media sosial, youtube, microsoft office ,dan blog (Lampiran 11) sehingga diharapkan para siswa dapat memperoleh cakupan informasi yang lebih luas untuk mendukung pembelajaran dalam rangka peningkatan kompetensi di era digital.
PENUTUP

Kesimpulan

Sustainable Development Goals merupakan sederetan pencapaian yang optimis dan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat, baik sosial, ekonomi, maupun politik yang diharapkan oleh 169  negara didunia salah satunya adalah Indonesia. Ambisi SDGs penuh tantangan karena dunia juga dihadapkan dengan era  revolusi industri keempat. Secara umum revolusi industri keempat menuntut semua orang lebih kreatif, inovatif, adaptif, dan solutif untuk dapat mempertahankan, menjamin, dan melangsungkan aktivitas kehidupan. Oleh karena itu, Dalam mengupayakan keberhasilan tersebut, haruslah diambil langkah bijaksana  dengan meningkatkan mutu pendidikan karena pendidikan yang berkualitas menjadi kunci utama untuk mempersiapkan generasi muda yang handal dan berdaya saing tinggi. Kajian akan pentingnya meningkatkan standar kualitas kurikulum pendidikan merupakan hal penting karena kemampuan berfikir jangka panjang yang sangatlah dibutuhkan sebagai feed back dimasa mendatang. Namun, hal itu tidak selaras karena  adanya permasalahan dalam struktur dan substansi kurikulum yang tidak memenuhi permintaan pasar pada revolusi industri keempat. Beberapa gagasan solutif telah penulis rumuskan dalam esai ini untuk mengatasi masalah yang terjadi. Kerjasama kolaboratif antara Pemerintah dan Guru sangatlah diperlukan dalam mengimplementasi gagasan tersebut untuk memperbaiki kualitas kurikulum 2013 agar tercipta Siswa yang berkualitas sehingga siap menghadapi revolusi industri keempat dalam upaya mencapai Suistainable Development Goals (SDGs) 2030.

Saran
 Kerjasama kolaboratif antara Pemerintah dan Guru yang tidak hanya sekadar wacana sangatlah diperlukan dalam mengimplementasi gagasan solutif untuk memperbaiki kualitas kurikulum 2013. Beberapa Gagasan solutif tersebut diantaranya Memperbaiki struktur kurikulum dengan menambah durasi mengajar terhadap beberapa mata pelajaran, Pengembangan model  pembelajaran aktif & komprehensif dengan keseimbangan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kemudian menyelaraskan maksud kompetensi inti dan kompetensi dasar sesuai tujuan pembelajaran, penerapan peran pendukung bagi Guru selain mengajar, menciptakan objektivitas dalam penilaian, serta meningkatkan peran literasi digital dalam mendukung proses pembelajaran. Esai ini menimbang bahwa pengembangan Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai Revolusi Industri Keempat sangatlah penting karena dapat menjadi salah satu langkah strategis yang dapat dicapai Indonesia dalam mewujudkan  Suistainable DevelopmentGoals(SDGs).







(Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2017 sebagai partisipasi pada Lomba Karya tulis di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang)*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar