(Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2019 sebagai partisipasi
pada Lomba Essay, rangkaian Futured CA Events oleh SC ICAEW Indonesia di Ukrida Jakarta)*
I. PENDAHULUAN
Berbagai subjek yang bekerja pada suatu profesi merasakan kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan yang saat ini ditekuni akibat datangnya mesin otomatis dan sistem robotik sebagai hasil perkembangan artificial intelligence. Subjek tersebut harus mampu beradaptasi dengan mengadopsi dan mengimplementasi perkembangan teknologi diera Digital sebagai sebuah sistem yang akan terus maju dan tidak bisa dihentikan prosesnya. Riset yang dilakukan oleh Frey dan Osborne pada tahun 2014 menyatakan bahwa dalam dua puluh tahun mendatang, 47% pekerjaan akan mengalami otomatisasi, dan salah satu pekerjaan tersebut adalah Akuntan (Nagarajah, 2016). Bidang pekerjaan akuntan yang bersifat repetitif akan tergantikan dengan fungsi mesin otomatis sebagai hasil perkembangan dari artificial intelligence. Otomatisasi Akuntan dalam lingkup pekerjaannya menunjukkan saat ini kita sedang berada dalam era bisnis disruptif, yang mana era bisnis disruptif ditandai dengan artificial intelligence dan internet of things yang mampu menggantikan banyak pekerjaan manusia. Yang menjadi pertanyaan bagaimanakah profesi akuntan memandang kemajuan teknologi ini ? Akankah mereka memandang sebagai sebuah ancaman karena hilangnya profesi dimasa mendatang ataukah mereka memandang sebagai sebuah peluang terhadap penguasaan kompetensi baru yang akan menunjang pekerjaan ?
Perkembangan teknologi diera disrupsi bisnis dapat dipastikan mempunyai dampak baik positif maupun negatif. Perkembangan teknologi pastinya juga akan berpengaruh terhadap profesi akuntan yang nantinya akan menjadikan sebuah ancaman maupung peluang. Perkembangan teknologi dapat kita lihat dari semakin banyaknya software yang sudah dapat melakukan mayoritas pekerjaan repetitif akuntan. Semakin bertambanhnya software tersebut menunjukkan perkembangan teknologi diera disruptif yang semakin maju. Para praktisi dan akademisi menilai AI yang ada harus terus dikembangkan lebih lanjut sehingga akan mempermudah dan meningkatkan kualitas pekerjaan akuntan. Dengan replacement pekerjaan akuntan oleh software maka akuntan dengan human skill dan technical skill yang dimiliki dapat memanfaatkan pikiran, tenaga, dan waktu yang dimiliki untuk belajar hal-hal baru non-akuntan (big data analyst dan data science analyst) untuk meningkatkan nilai tambah dan fungsionalitas dalam bekerja pada sebuah entitas. Seorang akuntan professional harus mempunyai jiwa percaya diri dan optimistis dalam menghadapi perkembangan teknologi mutakhir saat ini. Akuntan profesional harus mampu melihat perkembangan AI sebagai pendukung dan komplementer dalam bekerja menghasilkan karya yang berguna bagi peningkatan citra profesi akuntan menjadi berdayaguna dan bermanfaat dalam menciptakan kemajuan bagi perekonomian bangsanya. Akuntan profesional juga harus berkarakter Suistainability learning dengan meningkatkan kemampuannya dalam strategic management process agar mampu memberikan kontribusi terbaik bagi perkembangan ekonomi global.
II. PEMBAHASAN
2.2 Peluang Baru Kedudukan Profesi Akuntan dengan Berkembangnya Artificial intelegence
Carl Frey dan Michael Osborne selaku Dosen Oxford University melakukan riset dengan kalkulator online ciptaan mereka yang mampu menghitung dampak otomatisasi terhadap berbagai profesi. Hasil riset tersebut menunjukkan sebesar 94 % profesi akuntan akan mengalami otomatisasi dalam 2 dekade kedepan. Artificial Intelligence sebagai platfrom perkembangan teknologi mutakhir menjadi penyebab tergantikannya profesi akuntan oleh otomatisasi. Artificial Intelligence mempunyai beberapa komponen, diantaranya Machine-Learning untuk mendeteksi anomali, Natural Language Generation (NLG) untuk menyusun laporan kinerja perusahaan. dan Natural Language Processing (NLP) untuk me-review dokumen.
Berdasarkan data dari fakta yang dibahas sebelumnya, fungsi dan tugas seorang akuntan tidak lagi bersifat repetitif dan clerical karena fungsi tersebut telah mampu dilakukan oleh mesin dan teknologi robotik. Kemudian berdasarkan asumsi bahwa dukungan teknologi (software akuntansi) dapat menunjang pekerjaan seorang akuntan sehingga akuntan dapat meningkatkan peran lain yang lebih strategis dan analitis, maka kemajuan teknologi dinilai bukanlah sebuah ancaman, melainkan akan menjadi peluang baru akuntan dalam meningkatkan produktivitas dan fungsionalitas kerja. Seorang akuntan dapat memanfaatkan tenaga serta waktunya untuk menjalankan. Beberapa peran lain yang bernilai tambah, diantaranya : Menyajikan petunjuk dan rekomendasi lingkup Finansial dan Non-Finansial, Meningkatkan keterlibatan secara erat dengan bisnis yang dijalankan klien, Menginterpretasikan data dan informasi umum, Memberikan rekomendasi yang cerdas dan akurat dalam pengambilan keputusan bisnis.
Argumen bahwa perkembangan teknologi bukanlah ancaman didukung oleh fakta bahwa begitu banyak aspek human intelligence pada seorang akuntan yang tidak dapat digantikan oleh artificial intelligence. Pengkaryaan Kreativitas dan inovasi, Professional judgement, critical thinking, serta kemampuan memberikan saran & rekomendasi solutif adalah Beberapa karakter yang menjadikan akuntan merasa optimis dan percaya diri dalam menghadapi perkembangan teknologi diera bisnis disruptif. Aspek-aspek human intelligence ini akan semakin nampak dari dalam diri seorang akuntan dengan adanya sistem AI yang mengambil alih pekerjaan clerical, sehingga hal ini akan menciptakan sebuah peluang baru bagi akuntan untuk memberikan kontribusi yang bernilai tambah bagi eksistensi keprofesian dan lebih bermanfaat dalam merumuskan solusi penyelesaian suatu kasus bisnis sehingga Peran akuntan tidak dapat digantikan secara mudahnya oleh perkembangan sistem Artificial Intelligence. Dalam menghadapi perubahan yang terjadi pada era ekonomi digital yang penuh disruptif, akuntan diharuskan untuk belajar secara kontinu untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan dimasa depan dan tentunya dibutuhkan kemampuan adaptasi dan fleksibilitas terhadap kondisi lingkungan yang terus berubah.
Menurut Fred David, dalam bukunya “Strategic Management”, salah satu cara menyusun strategi adalah dengan melihat pada aspek peluang/opportunity dan aspek kekuatan/strength, kemudian mengolaborasikan keduanya untuk membentuk sebuah strategi yang optimal. Bahwa aspek human intelligence akuntan yang tidak dapat digantikan oleh mesin sebagai strength dan perkembangan teknologi sebagai opportunity. Setelah mengkolaborasikan kedua komponen di atas, penulis merumuskan dan menyusun sebuah program bernama TRUST IN TOP (Transformasi Akuntan Solutif, Inovatif, dan Optimistis) yang terdiri dari 8 (Delapan) strategi utama yang kuat dan komprehensif bagi profesi akuntan dalam memberikan kontribusi maksimal dalam berkarya diera bisnis disruptif , yaitu :
1. Pengembangan Kapabilitas Pemahaman Bisnis Secara Utuh (Business Acumen)
Memahami big picture dari sebuah data baik dari setiap area perusahaan maupun industri sejenis secara keseluruhan adalah hal yang fundamental agar akuntan mengerti cara terbaik untuk memaksimalkan sumber daya yang ada dan menghasilkan nilai tambah dalam pengambilan keputusan bisnis untuk menciptakan keunggulan kompetitif bagi manajemen. Oleh karena itu, Akuntan dituntut peka terhadap permasalahan yang berdampak pada perusahaannya untuk dapat merespon perubahan dan mengantisipasi setiap ancaman yang terjadi.
2. Menguasai Teknologi Informasi dan Aplikasinya dalam Praktik Akuntansi Kontemporer
Peranan big data, software analitik, cloud computing, Internet of Things (IOT), dan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang telah memasukkan unsur artificial intelegence dinilai telah mempunyai fungsi signifikan terhadap akuntan saat ini. Dengan adanya big data, kini akuntan dapat mengakses lebih mudah seluruh informasi terkait pelanggan, segmentasi pasar, dan hal-hal lain yang esensial bagi perkembangan bisnis sehingga akuntan kini diharapkan dapat membuat tren dan prediksi, berdasarkan data yang dimiliki untuk dikombinasikan dengan interpretasi profesional sebagai langkah pemecahan masalah bisnis.
3. Meningkatkan Strategic Skill untuk Menciptakan Pengaruh yang Lebih Besar pada Bisnis
Knowledge management skills, project Management skills, dan Change management skills adalah beberapa kemampuan yang termasuk strategic skills. Beberapa kompetensi tersebut bermanfaat dalam membantu stakeholder bisnis untuk mencari solusi permasalahan yang sedang terjadi. Seorang akuntan harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan manajemen seperti bagaimana cara untuk memimpin, mengatur, dan menggunakan sumber daya yang ada secara kompeten, efektif, dan efisien. Dalam hal ini, akuntan perlu memastikan bahwa data yang diolah mempunyai kualitas tinggi, insights yang mendalam, dan mencerminkan kondisi operasional perusahaan secara keseluruhan. Oleh Karena itu, akuntan harus dapat berpikir lebih kreatif dan stratejik untuk memberikan nilai tambah bagi bisnis suatu perusahaan.
4. Meningkatkan kemampuan Analytical Skill untuk Menganalisis Data dan Risiko
Analytical skill sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja untuk memastikan penyelesaian masalah dapat dilakukan maksimal dan tuntas sehingga dapat menjaga produktivitas dan fungsionalitas bisnis. Pada era disruptif, analisis akuntan sangat dibutuhkan untuk mentransformasikan big data menjadi sebuah insight dan prediksi yang berguna bagi peningkatan laba perusahaan. Akuntan diharapkan dapat memprediksi hasil keuangan dan mengembangkan rencana untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain kemampuan menganalisis data, akuntan dituntut untuk memiliki kemampuan menganalisis risiko, sehingga tidak hanya berorientasi kepada penciptaan gagasan secara mendalam terhadap potensi dan keunggulan untuk kemajuan bisnis secara berkelanjutan tetapi juga mengetahui hambatan, tantangan, dan kelemahan yang harus siap dihadapi dalam mencapai tujuan & visi misi sebuah perusahaan.
5. Memperkuat Communication dan Social Skill untuk Mengelola Hubungan Interpersonal
Otomatisasi pada pekerjaan akuntan merupakan sebuah kemudahan yang muncul sehingga membuat akuntan dituntut untuk dapat berbicara dengan mengkomunikasikan lebih banyak data keuangan dan non-keuangan yang diperoleh dan menjelaskan insight yang ada dibalik data tersebut. Akuntan juga diharapkan dapat mempresentasikan kinerja finansial serta mengomunikasikan strategi penanganan masalah bisnis kepada stakeholder terkait.
6. Meningkatkan kemampuan dan literasi tentang IT Security
Di Indonesia sendiri, IT Security berbicara seputar manajemen pengamanan informasi. Keamanan informasi merupakan terjaganya kerahasiaan (confidentiality), keutuhan (integrity), kelengkapan (completeness), dan ketersediaan (availability) informasi. Isu keamanan erat kaitannya dengan isu etika bisnis, oleh karena itu akuntan dibutuhkan untuk dapat memberikan insight bahwa data protection legislation telah dijalankan sesuai dengan kode etik yang ada. Standart Operational Procedure (SOP) yang baru serta ketentuan perundangan yang baru dibutuhkan untuk mempertahankan privasi data dan mencegah munculnya penyalahgunaan data oleh pihak-pihak yang tidak terkait (ACCA, 2013).
7. Literasi kemampuan People Management untuk Meningkatkan Kepemimpinan dalam tim.
Orang yang berintegrasi dalam bekerja akan berkontribusi maksimal bagi kesuksesan Perusahaan. Hal ini dikarenakan mereka mampu merepresentasikan diri diluar kompetensi utama yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas yang akan membantu organisasi mencapai tujuannya. Penelitian menunjukkan karyawan yang bekerja dibawah kendali Manajer yang efektif dalam melaksanakan People Management mempunyai kinerja 400 % lebih produktif jika dibandingkan mereka yang berada pada kendali Manajer yang tidak berkompeten. Oleh karena itu menjadi bagian penting bagaimana menerapkan people management yang baik bagi organisasi. Seorang akuntan profesional dengan legalitas sertifikasi yang diikuti, perfeksionis dan akurasi dalam pengambilan keputusan, dan tanggungjawab profesional yang berbasis Etika merupakan seorang People Management yang akan menciptakan level tinggi kinerja bisnis organisasi dengan efektifitas pengelolaan karyawan jika ditempatkan menjadi seorang CEO. Akuntan profesional selain menjunjung tinggi Profesionalitas dalam bekerja, dia akan menerapkan Skeptisisme agar dicapai Kinerja berkualitas yang berbasis pada Prinsip Etika Bisnis dan bersifat berkelanjutan dalam jangka panjang.
8. Mengembangkan kemampuan Complex Problem Solving untuk Pertumbuhan Bisnis tanpa batas.
Bisnis dan organisasi biasanya menghadapi banyak situasi masalah yang komplek dan sulit seperti Pengaturan Aliran Kas, Perputaran tinggi pada tenaga kerja, Jaminan berkualitas, dan Resolusi Konflik. Sebuah masalah tidak bisa dipahami sampai dengan solusi berhasil dikembangkan. Tidak ada pernyataan definitif tentang Sebuah Masalah. Masalah adalah penyakit terstruktur, mengandung isu dan batasannya yang saling terhubung. Seseorang tidak dapat memahami masalah tanpa tahu konteks dan substansinya. Seseorang tidak dapat mengartikan pencarian informasi tanpa memahami orientasi dari konsep solusi yang dirumuskan. Dan poin pentingnya Seseorang tidak dapat langsung memahami dan memecahkan masalah, dibutuhkan perencanaan dan penyusunan secara berkala untuk dapat mencapai solusi efektif terhadap masalah yang dihadapi. Definisi setiap masalah tergantung sudut pandang kita masing-masing. Berbeda stakeholder akan berbeda pula sudut pandang tentang masalah dan solusi yang ditempuh untuk penyelesaian masalah didalam sebuah manajemen.
Selain kompetensi utama yang dimiliki dalam mengelola sistem pelaporan yang menghasilkan Laporan Keuangan yang bernilai tinggi sesuai dengan pinsip tata kelola, etika profesional, dan integritas, diera Business Disruption ini seorang Akuntan juga dituntut mempunyai Complex Problem Solving sebagai langkah pengambilan keputusan bisnis yang efektif. Dengan mempunyai kemampuan Complex problem solving yang baik untuk sebuah bisnis, maka dalam penyelesaian masalah akan dihasilkan keputusan yang lebih komprehensif, kompleks dan bernilai tambah sehingga akan meningkatkan pertumbuhan perusahaan dari aspek manajerial, operasional, dan finansial dalam jangka panjang yang menguntungkan stakeholder terkait didalam manajemen.
III. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, maka kesimpulan dari karya tulis ini yaitu :
1. Pembuatan karya tulis ini dilakukan dengan tujuan untuk membahas dan menganalisis pengaruh perkembangan teknologi di era bisnis distruptif dan digital ekonomi terhadap profesi akuntan serta bagaimana strategi yang dapat diimplementasikan profesi akuntan dalam menghadapi era bisnis distruptif khususnya perkembangan sistem Artificial Intelligence .
2. Melalui perkembangan sistem Artificial Intelligence yang semakin maju dan canggih akan menjadi peluang bagi profesi akuntan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas keprofesian yang telah ada, karena kedepannya sistem Artificial Intelligence akan menggantikan pekerjaan akuntan yang bersifat clerical dan repetitif. Dengan adanya otomatisasi ini, pikiran,tenaga dan waktu yang dimiliki akuntan dapat didayagunakan untuk pekerjaan yang lebih stratejik, analitis, interpretatif dan bernilai tambah.
3. Untuk dapat meningkatkan daya saing profesi akuntan, penulis merumuskan sebuah program inovatif bernama TRUST IN TOP (Transformasi Akuntan Solutif,Inovatif dan Optimistis) yang terdiri dari 8 (delapan) strategi utama yang kuat dan komprehensif bagi profesi akuntan dalam memberikan kontribusi maksimal dalam berkarya diera bisnis disruptif. Delapan strategi tersebut diantaranya Penguasaan business acumen, Peningkatan akuntan dalam penguasaan teknologi, meningkatkan analytical skill, strategic skill, communication and social skill, meningkatkan literasi IT security, literasi People Management, dan Mengembangkan Complex Problem Solving. Dengan penerapan strategi yang dilakukan maka diharapkan profesi akuntan dapat terus meningkatkan eksistensinya demi kemajuan ekonomi global secara jangka panjang.
(Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2019 sebagai partisipasi
pada Lomba Essay, rangkaian Futured CA Events
oleh SC ICAEW Indonesia di Ukrida Jakarta)*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar